Pemerintah memastikan kenaikan harga BBM maksimal 30%

Sudah jadi keresahan umum masyarakat bahwa dalam hitungan dua -tiga minggu kedepan akan terjadi (lagi) harga Bahan Bakar Minyak yang tak tergantikan ini. Mulai dari Solar, Bensin, dan minyak tanah. Dengan tingkat kenaikan, yang secara eksplisit disampaikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) dalam suatu kesempatan, maksimal 30 persen dari harga yang ada sekarang.

Hal ini sangat jelas semakin membuat masyarakat Indonesia (masyarakat Indonesia yang tidak naik BMW mewah ber- AC, tidak memiliki baju rancangan Desainer kelas Wahid, masyarakat yang tidak menggunakan minyak rambut sebotol seharga minimal 100.000, dan masyarakat Indonesia yang tidur dibawah kolong jembatan). Padahal saat ini saja mereka masih kesulitan dalam mencukupi kebutuhan yang sederhana (makan 2 kali sehari).

Kenaikan BBM, akan secara otomatis diikuti oleh kenaikan berbagai komoditi yang lain, contoh gampang seperti harga sayur mayur, harga daging, harga telor, minyak goreng, dan gula. Kemarin Organda menyampaikan wacana menaikkan biaya transportasi sekitar 20% sebagai kompensasi kenaikan harga BBM.

Statement yang lain disampaikan oleh JK adalah pemberian tambahan kompensasi tunai langsung atau Bantuan Langsung Tunai sebesar 100.00 perbulan, maka diharapkan mengurangi gejolak.

Memang dana itu dirasa sangat membantu kalangan miskin yang “BERHAK”, namun disisi lain, hal ini semakin membudayakan budaya mental serba instant, mental yang sangat lemah. Apalagi ternyata data penerima BLT yang digunakan adalah data lama.

Kenaikkan ini memang sangat membingungkan berbagai pihak, pemerintah dan masyrakat. Pemerintahan SBY sudah menggunakan berbagai skenario untuk menghindari keputusan ini, namun fluktuasi harga minyak mentah dunia dan DOllar AS memiliki cengkeraman yang kuat. Masyarakat juga tidak bisa berbuat apa – apa karena diapa apakan, baik dengan demo maupun ngirim santet ke semua pihak yang bertanggung jawab, tidak akan berimbas dengan wujud pembatalan.

BBM akan tetap diburu, karena memang sudah menjadi kebutuhan tak terpisahkan, kenaikkan akan tetap diterima karena masyarakat tidak memiliki suara lagi, yang ada hanya suara pilu menyanyikan rintihan perut yang hanya diisi nasi sekepal.

2 Responses

  1. [...] PR bagi Bapak – bapak dan ibu – ibu pengemban amanat rakyat Indonesia, rakyat yang mana? baca disini [...]

  2. [...] PR bagi Bapak – bapak dan ibu – ibu pengemban amanat rakyat Indonesia, rakyat yang mana? baca disini [...]

Leave a Reply